Oleh: galih adhidharma | Januari 14, 2012

Anggrek Cleopatra

Selamat Malam! Hari ini saya mencoba flash gun baru saya, Evo 650e SpeedLite. Foto di samping adalah foto yang saya ambil menggunakan Canon EOS 1000D. Sebenarnya saya memiliki beberapa jepretan lagi yang saya taruh di flickr. Ya, photography sekedar hobi saja. Bagi saya tidak perlu menggunakan peralatan yang superb untuk menghasilkan gambar yang luar biasa. Cukup gambar yang enak dipandang mata.

 

Sedikit bercerita tentang objek foto ini, anggrek ini bernama Anggrek Cleopatra. Begitulah menurut ibu saya yang baru saja membelinya dari PASTHY sore ini. Itupun juga pedagang yang bilang begitu. Indah, mungkin karena itulah anggrek dinobatkan menjadi salah satu bunga nasional.

Oleh: galih adhidharma | November 6, 2011

Bertahan Sampai Akhir

Peperangan hanyalah awal dari perjuangan

Apa yang bisa kita dapat hari ini mungkin bisa hilang di kemudian hari. Sebagai orang yang memiliki rasa cinta tentu kita harus bisa mempertahankan apa yang telah kita dapat. Tentu saja tanpa melupakan kewajiban untuk berbagi. Ujian terberat yang diberikan kepada kita sebenarnya adalah sebuah pertanyaan mampukah anda mempertahankan apa yang telah anda dapatkan? Ini adalah soal komitmen dan konsistensi. Intinya bertahan hingga akhir. Semua yang telah kita dapatkan akan sia-sia bila kita tidak mampu mempertahankannya. Contoh yang relevan untuk mahasiswa tingkat akhir adalah skripsi. Skripsi yang telah dibuat dengan kerja keras akan sia-sia ketika kita tidak dapat mempertahankannya saat pendadaran. Bertahan hingga akhir. Sebuah contoh bagi orang yang sedang jatuh cinta. Ketika dia berusaha keras untuk mendapatkan cinta dari orang yang dia cintai maka kegagalan sebenarnya adalah jika dia tidak mampu mempertahankan hubungan yang telah terjalin. Ditinjau dari sudut pandang itu, cinta yang ditolak bukanlah kegagalan. Bertahan hingga akhir. Menang bukan tujuan karena menang hanyalah sebuah momentum.

Oleh: galih adhidharma | September 24, 2011

Bank Sentral

hari ini mungkin saya akan menulis tentang fungsi bank sentral di blog ini. tp nanti ya setelah saya pulang kuliah Kebanksentralan… hahaha yang jelas sebagai otoritas moneter tertinggi, Bank Sentral harus independen, berdiri sendiri.

Oleh: galih adhidharma | September 22, 2011

Rupiah Depresiasi, Eksportir Gembira

Rupiah yang terdepresiasi di sisi lain akan menguntungkan bagi eksportir. mengapa? karena kini dengan nilai US$ yang sama, eksportir akan mendapatkan rupiah lebih banyak. artinya marjin keuntungan yang lebih tinggi. melihat krisis saat ini yang menggoncang eropa dan amerika serikat, maka eksportir yang memiliki tujuan ekspor eropa dan amerika belum tentu mendapatkan kabar gembira itu. kondisi perekonomian di kedua wilayah itu sedang tidak baik. maka dari itu, perlu adanya target tujuan ekspor yang lain agar risiko akibat krisis dapat diminimalisasi.

Negara Tujuan ekspor yang baru misalnya India dan China. saat ini CPO dan karet merupakan komoditi ekspor yang sangat bagus dan kedua negara tersebut merupakan negara yang diprediksi akan memiliki pertumbuhan ekonomi yang bagus di masa mendatang.

Oleh: galih adhidharma | September 22, 2011

Depresiasi Rupiah Semakin Dalam

Kamis pagi ini rupiah mengalami depresiasi ke level harga Rp 9.300/US$. Untuk mengatasi hal ini Bank Indonesia harus mengucurkan cadangan devisanya untuk menghentikan atau minimal memperlambat laju depresiasi rupiah.

Depresiasi rupiah terjadi karena banyaknya jumlah uang (rupiah) beredar di Indonesia. hal ini terjadi akibat penarikan US$ dari para investor yang menyebabkan berkurangnya jumlah US$ dan banyaknya rupiah yang beredar. Bank Indonesia demi mempertahankan stabilitas rupiah harus menggunakan cadangan devisa yang dimilikinya untuk mengurangi rupiah yang ada di pasar.

Masalahnya adalah, berapa cadangan devisa yang dimiliki oleh BI untuk mempertahankan nilai rupiah? Kemudian, mengapa investor menarik US$-nya? Hal ini terkait dengan krisis utang Yunani dan penurunan peringkat utang Italia oleh Standard and Poor’s. Penahanan keputusan oleh pejabat keuangan Eropa hingga 3 minggu membuat pelaku pasar semakin gamang yang pada akhirnya menyebabkan turunnya nilai saham di bursa Eropa. dengan situasi seperti ini dikhawatirkan investor akan menyelamatkan US$ yang dimiliki, salah satunya dengan menariknya dari Indonesia. Tentu saja ini akan berdampak penurunan nilai rupiah.

 

Oleh: galih adhidharma | September 20, 2011

Terlarang Untuk Diungkapkan

Hal ini pernah terjadi ketika saya mengungkapkan perasaan kepada seseorang beberapa tahun yang lalu. kemudian hening, tidak terjadi pembicaraan lagi. saya memang tidak memintanya untuk menjadi sesuatu bagi saya, karena itu terserah dia bagaimana menanggapinya. kalo memang seperti itu tanggapannya, tidak masalah. pembicaraan pun baru berjalan lagi beberapa bulan yang lalu. begitu pula dengan kali ini. saya hanya menunjukkan perhatian saya, karena saya merasa nyaman. dan ya, perhatian itu menunjukkan bagaimana perasaan saya terhadapnya. entahlah, mungkin saya melakukan sesuatu yang salah. tapi 2 kejadian ini mirip. itulah sebabnya saya tidak mau membuat pengakuan karena saya tidak mau mereka yang saya sayangi lebih dari yang lain meninggalkan saya. menjadi dekat seperti ini saja sudah cukup. karena sebuah pengakuan, langsung atau tidak langsung akan menjauhkan mereka dari saya.

 

Oleh: galih adhidharma | September 18, 2011

Nyanyian Rindu

Sebenarnya saya kurang sreg dg adanya keharusan untuk memberikan judul kepada setiap tulisan. tapi apa boleh buat, judul memiliki banyak fungsi. yah, akhirnya mungkin saya harus memberikan judul kepada tulisan ini…

Selama beberapa bulan ini saya mengalami berbagai macam peristiwa yang berbuntut pada sebuah kesimpulan, saya harus berubah. kalimat ini sebenarnya sudah sering saya katakan pada diri sendiri. tetapi, bersamaan dengan terucapnya kalimat itu, saya merasa takut. takut terhadap akibat yang bahkan belum tentu akan saya hadapi.

Saya sadar bahwa mungkin saya terlalu banyak ngobrol dan kalo sudah ngobrol, saya tidak bisa mengakhirinya. saya tidak menyukai perpisahan. namun, saya sungguh sadar bahwa saya harus bersikap tegas, bukan tegas pada orang lain, tetapi tegas terhadap diri sendiri. langkah pertama yang saya lakukan adalah -tuuuuut-. saya harap dengan begitu saya bisa mengubah diri saya sendiri.

– keraslah pada diri sendiri, maka dunia akan lembek tehadapmu –

Oleh: galih adhidharma | September 14, 2011

Komplain Potong Rambut

saya mau nulis lagi. kasihan nih blog ga ada isinya. tentang potong rambut. lhoh bukannya kemarin udah ya? ya ini cerita yang baru! sepulang KKN rambut saya gondrong. bukan karena tidak ada barber atau salon di area kkn saya, tapi karena pengen punya rambut gondrong setelah KKN, biar keliatan bekas KKN-nya. akhirnya kembali ke kampus dengan rambut gondrong (ya,walaupun g gondrong2 amat sih, masih gondrongan si amat).

begitu menjejakkan kaki di kampus, komentar mengenai rambut saya bermunculan. ada yang bilang ganteng, ada yang bilang aneh, ada yang bilang berantakan… tapi saya g peduli. menurut gueh, ini keren coy! ya emang sih kalo diri sendiri g bisa ngeliat bentuk kepala sendiri, tp kan org lain yg bisa. makanya sempat agak ragu juga. apa emg jelek ya? kalo jelek kan berarti ini sudah menyimpang dari tujuan semula, biar ganteng. hmm… aku liat si gondrong, temenku yang kkn di sulawesi sana udah potong rambut. bayangin waktu rambutnya masih gondrong itu sampai bisa digelung. sekarang, sudah rapi dia.. temen2ku yang lain juga gitu, yg tadinya gondrong, jadi g gondrong lagi.

lalu, tiba2 tadi pagi ada sms masuk ke androida-ku,”Galeeeh,km kok g kece lagi sih? gaya rambutmu diubah deh leh,potong rambut tuh. hasil fotomu agak gimana gitu :D”. gubrak! penata gaya artis gueh komplain setelah melihat hasil fotonya. hehehe… becanda, dy bukan penata gaya. temen gue waktu SMA, skrg kerja di kampusku. alhasil, potongan rambutku yang kukira keren ini ternyata jauh dari kata keren. masalah berikutnya muncul, seharusnya potong model apa aku ini?!

kesimpulan: bagi kalian para pria yang menganggap apa yang menurut kalian itu keren, pikirkan lagi. pikiran perempuan itu sering beda 180 drjt lho. rambut gondrong itu keren? tergantung deh… cowok berotot itu keren? weleh, sebagian besar perempuan g suka. wakakak… bingung ya? aku jg bingung.

Oleh: galih adhidharma | Mei 19, 2011

Buffalaxed: A Funny English Missheard

Oleh: galih adhidharma | Mei 19, 2011

Tempat Pembuangan Akhir Tradisional: Jugangan

Malam ini saya akan berbagi satu hal tentang jugangan atau tempat sampah. Jugangan adalah sebuah sistem yang diturunkan turun temurun dari nenek moyang bangsa Indonesia. Di rumah masyarakat Jawa, terutama yang masih memiliki halaman dapat dipastikan ada sebuah jugangan.

Jugangan dibuat dengan cara membuat lubang pada tanah. biasanya hanya sedalam 1 meter dan berbentuk kubus. Jugangan ini berfungsi sebagai tempat pembuangan akhir dengan skala perumahan. Semua limbah yang dihasilkan rumah tangga pada akhirnya akan masuk ke lubang ini. Seperti plastik, kertas, makanan basi, dan dedaunan. Pada jaman dahulu sebelum ditemukan plastik, jugangan ini juga berfungsi sebagai sarana pengomposan karena isinya yang hanya dedaunan. Namun, kini setelah ada plastik, fungsinya sebagai media pengomposan mungkin berkurang karena plastik tidak dapat diuraikan dengan mudah oleh tanah.

Penggunaan jugangan adalah baik untuk tanah. karena konsep recycle. Namun, banyak pula masyarakat yang membakar sampah dalam jugangan yang sudah penuh daripada menguburnya. akibatnya timbul polusi udara. asap pembakaran sangat mengganggu kesehatan pernapasan dan sangat mudah menyebar karena tiupan angin. hal ini tentu mengganggu orang-orang yang tinggal di sekitarnya, terutama tetangga.

jugangan pada dasarnya tidak ada polusi bau, tetapi malah membuat tanah menjadi subur. Tindakan membakar sampah hanya menimbulkan polusi daripada menguranginya. Sama sekali tidak sebanding dengan manfaatnya mengurangi sampah dalam jugangan agar jugangan tidak cepat penuh. yang kita dapat dari membakar sampah hanya asap yang mengganggu pernapasan dan kita kehilangan manfaat dedaunan sebagai penyubur tanah.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori