Oleh: galih adhidharma | September 22, 2012

Gila! (part. 2)

Saya sempatkan menulis di antara hiruk pikuk persiapan keluarga saya yang akan berangkat ke rumah Bude di Gamping. Bude mau mantu besok Ahad. Tetapi, bukan itu fokus tulisan ini.

Sebenarnya saya baru menuliskan cerita saya hari ini karena alasan baru kepikiran nulis. Maklum ya, yang ada di pikiran ini baru ngerjain tugas akhir saya sebagai mahasiswa.

Terkait dengan tugas akhir, cerita saya ini bersambung dengan part 1. Ini semua tentang nothing to lose, bagaimana alam berkonspirasi dalam komando Tuhan, dan keikhlasan. Ini semua berawal dari sebuah musibah yang saya alami. Tak perlu saya ceritakan apa musibah yang menimpa saya, yang jelas saya banyak belajar dari hal itu dan saya simpan sendiri, off the record, karena saya benar-benar tidak ingin membahasnya. karena sekali lagi bukan ini inti dari hal yang ingin saya sampaikan.

Saya sempat merasa kehilangan harapan untuk kesekiankalinya. Kekhawatiran terhadap kelangsungan tugas akhir saya tiba-tiba muncul sebagai variabel independent yang meloncat keluar dari error term persamaan hidup saya. Butuh waktu, ya, butuh waktu bagi saya untuk diam mencerna sebenarnya apa yang telah saya lakukan di masa lalu, sehingga saya mengalami hal ini. Tetapi saya putuskan, bahwa show must go on, hidup saya terus berjalan dengan atau tanpa tetek bengek kesedihan ini.

Saya kembali memandang proposal saya. Saya ingat bahwa beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan kawan baik saya yang sudah lulus. Dia sekarang bekerja di sebuah bank swasta di Jakarta. Kami membicarakan apapun termasuk tentang tugas akhir. Saya menanyakan tentang bagaimana pendapatnya tentang dosen pembimbingnya dulu. Kesimpulannya, saya tertarik untuk approach dosen yang sama.

Masa KRS tinggal 2 hari lagi, esok dan lusa. Sebagai Last Minute Man, saya kelimpungan menyiapkan surat permohonan bimbingan. Sore harinya saya kirimkan sms kepada dosen yang saya harapkan. Setengah jam sebelum tengah malam, “besok jam 12 di kantor saya” dan senyum terkembang di bibir saya.

Saya datang dengan tergesa-gesa ke kantor dosen setelah memberikan selamat kepada sahabat saya yang wisuda hari itu. Saya sudah siap menerima konsekuensi apapun di awal, saat, dan akhir pertemuan. Shock ternyata benar-benar terjadi saat konsultasi. Bahasan topik pada proposal saya menurut beliau muatan politisnya begitu banyak. Dan untuk konsekuensi seperti itu saya belum siap. Diskusi lebih jauh menunjukkan topik ini butuh waktu untuk diselesaikan. Saya diam menerawang. Saya tidak ingin terlalu lama menyelesaikan studi saya di sini. Saat yang sama saya kehabisan waktu untuk memikirkan sebuah topik baru, karena waktu tinggal besok. Saya tidak tahu harus menghubungi dosen yang mana lagi karena itu sepertinya tidak mungkin karena hanya besok waktu yang tersisa. Menghubungi dosen untuk bertemu tidak semudah bertemu karyawan akademik.

Beliau kemudian memecahkan kebekuan dengan menyodorkan sesuatu yang tidak saya pahami. Sebuah topik. Topik yang baru saya dengar di bidang makroekonomi. Beliau dengan antusias menceritakan kepada saya topik yang sedang diteliti bersama timnya. Beliau menawarkan topik itu kepada saya, apakah saya mau menuliskannya sebagai tugas akhir saya? Harapan tumbuh kembali. Dan saya pun menerimanya. Beliau juga meminta saya membantunya.

Entahlah apa yang telah terjadi. Ini termasuk kegilaan dalam istilah saya. Kegilaan yang pernah terjadi pada saya beberapa saat yang lalu muncul kembali dengan bentuk yang berbeda. Saya tidak tahu harus bagaimana, saya hanya bisa diam saja. This world works on its own mysterious mechanism. Alhamdulillah.

Iklan

Responses

  1. Suatu kesuksesan yg diawali kegilaan donk judulnya… Skr kan om Gelih jd pakarnya GAMA LEI… Bravooo!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: