Sengaja saya menggunakan judul yang kontroversial agar menarik perhatian. Tujuan saya menulis tentang dosen-dosen saya yang aneh ini sekedar berbagi kisah, kesah, dan kasih (lhoo! yang ini apa maksudnya?)
Saya pikir, satu-satunya dosen FEB yang mengajar mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi cuma satu, yaitu Bu Endang Sih Prapti Soemiantoro. Mengapa? Wah, saya juga tidak tahu. Namun, banyak hal aneh dan berkesan selama saya mengikuti kuliah dari beliau.
Hal pertama yang membuat kami tercengang (wuh, iki ndeso tenan!) adalah kritik beliau terhadap bangsa Indonesia yang telah salah menyebut nama salah seorang filsuf Yunani yang tenar, Aristoteles. Menurut beliau, yang benar adalah Aristotle. Apalah arti sebuah nama, Bu Endang? Argumentasi beliau adalah Aristotle merupakan sebuah nama dari seorang manusia, jadi tidak boleh salah sebut. Lalu apalagi ya? saya sudah lupa.
Hal kedua adalah buku yang beliau rekomendasikan untuk kami gunakan. Buku tua yang, sumpah, bahasanya jadul banget! Inggris lagi! Sama sekali tidak ada gambarnya (emang komik?). Buku yang dimaksud adalah karangan Eric Roll yang berjudul “A History of Economics Thought” terbitan pertama tahun 1938 dan Henry William Spiegel yang berjudul “The Growth of Economics Thought” tahun 1911. Wuh, luar biasa..
Yang lebih luar biasanya lagi adalah saat presentasi. Saat presentasi, setiap kata yang keluar dari mulut presenter akan habis-habisan diteliti oleh dosen yg satu itu… Jangan sampai salah ucap. Berbahaya. Sekali keluar kata-kata, “Anda belum baca, ya?” Maka nilai presentasi anda sudah turun satu setrip, dari A- ke B+ atau dari B+ ke B atau B ke B-. Perkecualian untuk saya, saya mendapat nilai B+/B. Aneh sekali. Itu gara-gara statement saya yang ngawur di akhir kalimat. Saya berkata, “Aristotle seorang filsuf yang populer di abad pertengahan…” What the hell?! Bagai mendapat durian runtuh, ibu itu langsung meng-counter attack statement saya, “Bagaimana bisa Aristotle hidup lagi di abad pertengahan?” Saya langsung membalas, “Aduh, Bu, maaf, maksud saya peninggalan beliau yang tetap hidup dan digunakan hingga abad pertengahan.” Habis sudah saya, dengan begitu lenyaplah kemungkinan mendapat A-, prestasi nilai tertinggi presentasi di kelas ini. “Anda sudah memberi informasi yang berguna. Cara penyampaian anda sangat bagus dan jelas. Sampai sangat jelas kesalahannya.” Oke deh, makasih Bu Endang…
Sebelum insiden itu untung saya sudah memberikan informasi di awal presentasi dengan menyajikan kematian Pliny yang disebabkan oleh wedhus gembel sehingga nilai saya tidak jatuh terlampau sekarat. fiuh….

ini mas adhid saya komen….
wah3….medeni buku jaman raenak dinggo….tetapi apakah info2 didalamnya masih relevan???he2
Oleh: dingox on Oktober 13, 2009
at 7:15 pm
terima kasih mas dingox!
baithewai…saya belum menemukan hal yang tidak relevan di buku itu.
mungkin karena saya males bacanya. hhahahaha
Oleh: galih adhidharma on Oktober 13, 2009
at 7:41 pm
wogh. tahun depan : A+
Oleh: asyrop qomarudin on Oktober 13, 2009
at 7:25 pm
amiiin srop! ning ketoke gag mungkin deh srop.hhahaha
Oleh: galih adhidharma on Oktober 13, 2009
at 7:37 pm
aku juga pengen nulis banyak tentang dosen2 feb
bahkan aku udah nyatet beberapa yang khas dari dosen
ex:
.Pak Wisnuadji dengan GOBLOKK!! dan LOCAL GENiUSnya
.Pak Iswardono dengan ‘ingatlah celana dalem kalo ketemu elatisitas’
.Pak Nopirin yang selalu siap sedia uang kertas di dalem sakunya
.Bu Denni dengan ‘gedenya seBAgong’, ‘Whatever!’, ‘kaliyan ini!’
.Pak WW yang slalu ngulang2 ceritanya pernah jadi pengusaha ayam potong waktu mahasiswa
.Pak Catur dengan kerlingan matanya..
.kalo bu Endang tu..’gimana mbak mas..?’
.sapa lagi yaaa…hahahah
Oleh: epe on Oktober 13, 2009
at 7:28 pm
emang pak catur sukanya ngerlingin mata ya pe? (woot)
Oleh: galih adhidharma on Oktober 13, 2009
at 7:36 pm
wah.jd ingat insiden ujian tesis sy dulu.salah satu pengujinya ya.. Bu Endang ini.karena grogi berat sy tdk bisa memperthankn argumen tentang keabsahan tesis saya, sy di tuduh plagiat. Kalo air mata itu warnanya merah, kamar kos saya dulu mungkin sudah berubah jadi lautan darah.Tapi, banyak hikmah yang bisa saya ambil dari kejadian itu dan ternyata nilai saya gak hancur banget, dikasih A-.Haaaa….hhhhh lega rasanya.TRim’s Bu endang sayang……..kapan bisa ketemu lagi ya???
Oleh: Dwi W. on Mei 14, 2011
at 11:13 pm