Pemulung Ide Sampah Yang Tercecer

Februari 2, 2010

Karakterisasi

Diarsipkan di bawah: Coretan Harian — galih adhidharma @ 11:09 am

Adhid : seorang pemuda wagu yang memiliki keahlian dalam mencocok-cocokkan hal-hal di sekelilingnya. Kemungkinan cocok sebesar 98%. Pandai menebak apapun. Jenis ujian yg paling disukainya adalah jenis multiple choice. Namun, hal tersebut tidak datang tanpa efek samping. Dia harus menanggung kesulitan dalam menghadapi perempuan cantik. Sering bermasalah dengan rambutnya.

rencananya si Adhid ini bukan tokoh utama, tapi jadi tokoh kunci.

nah, bentar cari inspirasi buat karakter lainnya….

Februari 1, 2010

Photos

Diarsipkan di bawah: Coretan Harian — galih adhidharma @ 11:29 pm

Ternyata saya baru menyadari hal ini beberapa saat yang lalu. Tentang foto-foto saya yang selalu kurang keren(atau karena saya memang tidak keren?ini pasti alasan yang paling benar). Hm… Sebabnya adalah hanya saya yang bisa memotret dg baik atau karena orang lain yg jika mintai bantuan untuk memotret saya ogah-ogahan.

Tapi sepertinya saya memang harus belajar membangun rasa percaya diri.

Januari 1, 2010

Tahun Baru 2010

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — galih adhidharma @ 9:17 am

Alhamdulillah…blog ini berjalan sudah lebih dari 1 tahun…dari 2009 ke 2010, semoga blog yang berisi cerita singkat ini lebih menyenangkan untuk dibaca dan tidak membosankan. Semoga blog ini tidak bertele-tele dan selalu langsung menyajikan inti permasalahan.

Happy New Year! Happy New Year!

Desember 11, 2009

Symbol, Pusaka, dan Kekuatannya.Part 1

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Tag:, , , — galih adhidharma @ 2:30 pm

Dulu waktu saya masih kecil, selalu bertanya-tanya, buat apa sih pusaka itu? Misalnya keris. Kok dihormati banget. Syirik ah.. Saya bertanya-tanya lagi, bagaimana bisa benda semacam itu mempunyai khasiat? Edan po percaya gituan? hhahaha…

Begitulah awal mulanya saya hanya bertanya-tanya. Namun, seiring berjalannya waktu, hal yg biasa terjadi akhirnya terjadi kembali pada diri saya. Yaitu, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu mulai bermunculan. Satu demi satu dan memberikan pencerahan, setidaknya saya menjadi tahu mengapa.

Sebuah bangsa atau peradaban manusia dikatakan tinggi jika peradaban tersebut sudah mampu menggunakan simbol, perumpamaan-perumpaan, analogi, maupun sandi-sandi. Nah, simbol merupakan sebuah bahasa tingkat tinggi yang diciptakan manusia sebagai gabungan dari berbagai aspek yaitu, seni, intelektual, dan moral.

Mengapa moral? Ya, karena simbol biasanya digunakan untuk menyampaikan pesan kebaikan (the way of life) pada orang lain atau generasi berikutnya. Untuk membuat simbol, diperlukan sebuah kecerdasan tingkat tinggi untuk memasukkan pesan kepada benda dan seni tinggi agar simbol yang dibuat terlihat menarik dan timbul keinginan untuk menggunakan simbol tersebut.

Nah, mari kita bahas tentang simbol. Contohnya apa ya? Banyak ya, tinggal milih salah satu. Misal Cakra. Cakra merupakan sebuah lingkaran yang berbentuk roda. Apa filosofi dari cakra itu? Roda bergerak berputar, kadang sisi misal A ada di atas dan kadang di bawah. Menggambarkan sebuah kehidupan yang bergerak dinamis, kadang di atas, kadang di bawah. Kadang kehidupan itu pahit dan kadang kehidupan itu manis. Itulah makna dari simbol cakra. Siapakah pemegang simbol (yang kemudian mari kita sebut pusaka) itu? Dalam dunia pewayangan, pusaka itu dimiliki oleh seorang sakti bernama Shri Kreshna. Sebagai titisan Dewa Wisnu, dia bertugas untuk menjaga dunia ini dari kejahatan. Digambarkan bahwa Kreshna adalah seorang yang bijaksana dan waskita, tahu apa yang sedang dan akan terjadi. Itulah mengapa senjata Cakra cocok dipegang oleh Kreshna.

Sampai di sini, sudah merasakan apa yang saya maksud? Oke, di sinilah letak kehebatan dari pusaka. Namun, sesungguhnya pusaka itu tidak lebih dari hanya sebuah benda yang berfungsi seperti kegunaannya. Tidak ada yang istimewa. The special thing dalam sebuah pusaka adalah filosofi yang terkandung dalam pusaka, jadi bukan bendanya. Dengan pesan moral yang disampaikan oleh pusaka itu, si pemegang akan selalu ingatakan pesan yang dipegangnya.

nah sekian dulu, sudah capek. Part 2 akan segera menyusul dengan pembahasan tentang bahaya pusaka dalam jangka panjang.

Desember 8, 2009

Persiapan makes perfect!

Diarsipkan di bawah: Coretan Harian — Tag:, , — galih adhidharma @ 9:38 pm

Yap! bertemu lagi dengan saya, Galih! Wahaha…lebay… gini lho skrg ni ceritanya aq mw bahas tentang arti penting dari PERSIAPAN. Persiapan menyebabkan segalanya menjadi terasa sempurna. Misalnya, mau rekreasi, butuh persiapan. Apa saja yg harus disiapkan? ya terserah kamulah. tergantung km mau ngapain di sana. Ato misal lagi, mau pidato di hadapan ribuan penonton! Wah, butuh banget tuh sama yg bernama persiapan. Mulai dari mencari tema, judul hingga dress yg akan dipakai. Pokoknya, persiapan itu sangat penting. Persiapan yg matang akan menghasilkan performa yg mengesankan!

Sebenernya mengapa kita butuh persiapan?

1. Kalo dengan persiapan, semuanya bisa dikendalikan. Hal-hal yg ditakutkan dapat diatasi.

2. Persiapan akan membuat performa km menjadi semakin keren!

3. Bagi kamu yg grogian abis! persiapan sangat dianjurkan! persiapan dapat mengurangi getaran di kaki lho. hhehe

udah gitu dulu ya. entar kalo udah ada pikiran yg aneh-aneh lagi, aku kabari deh! hhehehe….

Desember 4, 2009

Tastes and Preferences

Diarsipkan di bawah: Berita Ekonomi — Tag: — galih adhidharma @ 2:24 pm

1.

permintaan berbeda antar negara baik karena orang memiliki selera yang berbeda dan karena tuntutan bergantung pada pendapatan per kapita saat selera adalah identik tetapi Nonhomogeneous. Studi empiris permintaan cenderung sangat menolak hipotesis homogenitas, seperti akan kita bahas lagi dalam bab berikutnya. Dalam spesifikasi relatif sederhana pola permintaan, negara-negara cenderung untuk mengimpor barang-barang yang mereka memiliki preferensi kuat.

2.

perbedaan dalam permintaan yang disebabkan oleh perbedaan dalam pendapatan per kapita adalah batu penjuru dari hipotesis Linder. model ini memiliki unsur-unsur lain, seperti peran pengusaha dalam mengembangkan produk baru, namun pendapatan per kapita adalah pusat implikasi dari model-model untuk pertanyaan perdagangan internasional. negara dapat mengekspor produk-produk hanya mereka yang seorang pengusaha telah dirasakan dan mengisi permintaan domestik. demikian, perdagangan dalam manufaktur yang paling umum di antara negara-negara maju, yang memiliki selera serupa karena pendapatan per kapita yang sama.

3.

keberadaan beberapa perdagangan intra-industri ini disebabkan oleh kategorisasi industri untuk tujuan pelaporan data perdagangan. sebagian disebabkan oleh biaya transportasi dalam hubungannya dengan pasar lokal yang meluap perbatasan nasional. yang paling penting, bagaimanapun, IIT adalah hasil preferensi untuk berbagai produk dalam kaitannya dengan skala ekonomi.

4.

faktor-faktor ini dapat dikombinasikan dengan pengertian nonhomogeneous preferensi dan faktor pendukung ke dalam satu kesatuan model yang menjelaskan prevalensi manufaktur perdagangan dibedakan antara negara-negara maju dan prevalensi antar-industri perdagangan antara negara-negara maju dan negara berkembang.

5.

produk daur-model juga sangat bergantung pada perbedaan dalam permintaan yang terkait dengan pendapatan per kapita. dasarnya, model siklus berguna dalam memahami pentingnya inovasi produk dan teknologi difusi dan internasional. proses-proses ini memiliki pengaruh penting pendapatan di negara yang berbeda.

6.

model siklus dikritik di berbagai landasan. yang lebih memuaskan teori dinamis perdagangan menunggu perkembangan lebih lanjut dari model-model yang saling ketergantungan menangkap perubahan teknis dan pendapatan per kapita.

Desember 2, 2009

Desperate…

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — galih adhidharma @ 7:31 pm

Sedih ini…. membuatku merasa dimensi membesar seketika tak berbatas dan suara menggema ketika ku berteriak… kemanapun aku pergi, aku tak beranjak dari tempatku. hampa… kosong… putih…. senyap.

Harapan…kembalikan harapanku… bantulah aku, siapapun…apapun…

Desember 1, 2009

Hiperinflasi di Jerman, Tahun 1921-1923

Diarsipkan di bawah: Berita Ekonomi — Tag:, , — galih adhidharma @ 10:14 am

Pada tahun 1921, kebutuhan untuk mereparasi dan merekonstruksi ekonomi setelah Perang Dunia 1 mengakibatkan pengeluaran pemerintah jerman jauh melampaui pendapatannya. Pemerintah dapat memperoleh pendapatan untuk menutupi pengeluaranyang  meningkat ini dengan menaikkan pajak, tetapi solusi ini, seperti biasa, politik, tidak populer dan akan butuh banyak waktu untuk dilaksanakan. Pemerintah dapat juga memiliki pengeluaran dengan biaya dari pinjaman dari masyarakat, namun jumlah yang dibutuhkan jauh melebihi kapasitasnya untuk meminjam. Hanya ada satu jalan yang tersisa: mesin cetak. Pemerintah dapat membayar pengeluaran hanya dengan mencetak lebih banyak mata uang (meningkatkan jumlah uang beredar) dan menggunakannya untuk melakukan pembayaran ke individu dan perusahaan yang menyediakan barang dan jasa. Pada akhir tahun 1921, jumlah uang beredar mulai meningkat dengan cepat, dan begitu pula tingkat harga.

Pada 1923, situasi anggaran pemerintah jerman jauh memburuk. Awal tahun itu, Prancis menyerang Ruhr, karena Jerman telah gagal untuk membuat pembayaran reparasi yang dijadwalkan. Pemogokan umum di wilayah itu terjadi untuk memprotes tindakan Prancis, dan secara aktif, pemerintah Jerman mendukung  “perlawanan pasif” ini dengan melakukan pembayaran kepada pekerja mogok. Akibatnya, pengeluaran pemerintah pemerintah naik secara dramatis, dan mata uang dicetak pemerintah di tingkat yang lebih cepat untuk membiayai pengeluaran ini. Hasil ledakan jumlah uang beredar adalah bahwa tingkat harga meroket, yang menyebabkan tingkat inflasi selama 1923 yang melampaui 1 juta persen!

Invasi Ruhr dan pencetakan mata uang untuk membayar para pekerja mogok sesuai dengan sifat-sifat suatu peristiwa eksogen. Kebalikan penyebab (bahwa kenaikan tingkat harga menyebabkan Prancis menyerang Ruhr) ini sangat tidak masuk akal, dan sulit membayangkan faktor ketiga yang bisa menjadi kekuatan pendorong di belakang kedua ledakan inflasi dan jumlah uang beredar. Oleh karena itu, hiperinflasi Jerman memenuhi syarat sebagai “eksperimen terkontrol” yang mendukung proposisi Friedman bahwa inflasi adalah fenomena moneter.

(terjemahan dari buku The Economics of Money, Banking, and Financial Markets ed. 8 karya Frederic S. Mishkin)

November 2, 2009

Kopi Jawa (Dulu) Berkelas Dunia

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — galih adhidharma @ 11:12 pm

Menjelang petang akhir pekan di Jalan Braga, Bandung, tiga gadis Belanda, Annelieke, Lisette, dan Esther, dari Leiden melepas lelah setelah berkeliling kota tua dengan minum kopi. ”Let’s have a cup of Java”, mari minum secangkir kopi jawa adalah undangan minum kopi yang populer bagi orang Eropa dan Amerika.

Minum kopi masih menjadi kebiasaan bagi orang Eropa daratan dan Amerika, tidak ubahnya minum teh pada sore hari bagi orang Inggris. ”We do love coffee,” kata Annelieke singkat.

Selama empat bulan berada di Jawa medio tahun 2007, kopi menjadi salah satu menu minuman harian mereka.

Itulah sepenggal riwayat tidak terpisahkan kopi jawa bagi orang kulit putih. Kopi jawa dulu menjadi primadona yang diangkut dari perkebunan dataran tinggi melalui Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) untuk diekspor ke Eropa. Kopi jawa adalah salah satu primadona seperti kina, tebu, teh, dan karet yang kini pamornya semakin surut karena sistem budidaya pertanian yang coba sana-coba sini sehingga kehilangan fokus.

Sebagai contoh nyata adalah kerangka beton bangunan bedeng buatan Belanda di tengah sawah dan kebun di sebuah perkampungan di Cadas Pangeran. Pada masa silam, menurut warga, bedeng tersebut merupakan bagian dari kompleks perkebunan kopi yang subur di sekitar wilayah tersebut.

Malaysia tetap melestarikan perkebunan karet dan lada sejak zaman kolonial Inggris hingga pascakemerdekaan tahun 1957, yang tetap lestari sampai saat ini. Sementara, sungguh disayangkan, kopi jawa akhirnya kehilangan pamor karena salah urus dan kebijakan pemerintahan yang tidak tentu arah. Padahal, menurut Widya Pratama, pemilik Aroma Kopi yang didirikan tahun 1930, kopi terbaik di dunia adalah kopi jawa!

”Curah hujan dan tingkat keasaman tanah di Jawa sangat pas untuk budidaya kopi. Jauh lebih baik daripada kopi Amerika Latin ataupun Afrika. Untung sekarang sudah mulai ada kesadaran lagi untuk menanam kopi jawa. Dulu dataran tinggi Lembang merupakan surga perkebunan kopi yang kini tergusur perumahan. Sekarang di Pangalengan sudah mulai dirintis penanaman kopi jawa,” kata Widya.

Manajer Komunikasi PT Sari Coffee Indonesia Yuvlinda Susanta menjelaskan, pihaknya pernah mengenalkan kembali kopi jawa melalui gerainya yang ada di seluruh dunia. ”Secara kualitas memang sangat bagus. Tetapi dari sisi kuantitas selanjutnya tidak terpenuhi sehingga penjualan terhenti. Kita masih terus mencari upaya untuk mengangkat kembali citra kopi jawa,” kata Yuvlinda.

Berawal dari tanam paksa

Kejayaan kopi jawa berawal dari penerapan tanam paksa (Cultuur Stelsel) masa Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch (berkuasa 1830-1833). Peter Boomgard dalam buku Anak Jajahan Belanda Sejarah Sosial dan Ekonomi Jawa 1795-1880 mencatat bahwa tanam paksa mewajibkan petani mengalokasikan seperlima lahan untuk tanaman bagi pasar Eropa, yaitu kopi, tebu, nila, teh, dan tembakau.

Sungguh indah Jawa tempo dulu. Betapa pertanian dan perkebunan dikelola secara terarah meski ada praktik korupsi serta pengisapan di kalangan elite penguasa Bumiputera.

Alfred Russel Wallace, sang naturalis terkenal yang namanya diabadikan sebagai garis pemisah untuk membedakan keragaman fauna di sebelah barat dan timur Nusantara, bahkan mengklaim Jawa sebagai the finest tropical island in the world atau pulau tropis terbaik di dunia. Wallace berkelana selama tiga setengah bulan di Jawa pada tahun 1861.

”Pulau tersubur, terpadat, dan terindah di seluruh tropis. Begitu banyak gunung berapi memberkahi Jawa dengan tanah yang subur,” kenang Wallace.

Dalam Java a Traveller’s Anthology disebutkan, Wallace mengunjungi kebun kopi di Wonosalem di kaki Gunung Arjuna—tak jauh dari Surabaya. Wallace mengumpulkan spesimen burung merak di Wonosalem.

Wallace dalam jurnal yang diterbitkan 1869 memuji-muji sistem pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang tetap mempertahankan keberadaan elite lokal di tingkat desa, para bupati, budidaya perkebunan kopi dan teh, keindahan alam, serta candi-candi Jawa yang lebih indah daripada India dan peninggalan purbakala di Amerika Latin wilayah jajahan Inggris.

Eksotisme Jawa dikenal di dunia Barat, terutama lewat hasil buminya, kopi. Widya Pratama menambahkan, kopi jawa dari jenis Arabica ataupun Robusta memiliki kualitas premium di dunia.

”Tetapi, biji kopi harus disimpan lima tahun untuk jenis Robusta dan delapan tahun bagi kopi Arabica untuk selanjutnya diproses demi mendapatkan rasa terbaik. Dari seratus kilogram biji kopi (berry) kering akan didapat sekitar 80 kilogram bubuk kopi yang bebas dari rasa masam. Memasak biji kopi jawa pun seharusnya menggunakan kayu bakar dari pohon karet dan disangrai di dalam sebuah wadah berbentuk globe. Sayang, banyak pengusaha kopi Jawa yang sekarang tidak mematuhi kaidah tersebut dan mengejar omzet belaka tanpa memedulikan mutu,” kata Widya.

Demi membangkitkan kembali kejayaan kopi jawa, Widya mulai merintis penanaman kembali kopi di sekitar Pangalengan dengan bermitra petani lokal. Kopi jawa terbaik hanya dipanen setahun sekali. Dia menyayangkan hilangnya perkebunan kopi di Lembang dan sekitar Cadas Pangeran. Kini, perlahan tetapi pasti, pamor kopi jawa mulai dibangkitkan oleh pelaku bisnis meski jauh dari perhatian pemerintah!

Rabu, 20 Agustus 2008 | 03:00 WIB

KOMPAS

Oktober 29, 2009

“Maka, sekali kamu belajar, beres untuk selamanya!”

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Tag:, , — galih adhidharma @ 5:47 pm

Belajar merupakan sebuah kewajiban manusia dari kecil hingga tumbuh dan berakhir di liang lahat. Namun, apakah proses belajar itu menyenangkan? Menurut saya, tidak! Belajar is boring thing! Belajar sangatlah membosankan, membaca, menghafal, memahami, mengerjakan soal, menjelaskan… Semuanya adalah hal yang menjemukan. Benar-benar menjemukan. Belajar juga membutuhkan waktu yang sangat lama. Sangat menyebalkan, padahal saya ingin segera menguasai materi.

Sebenernya, bagaimana cara untuk membuat kita pintar, tapi main jalan terus? Hm…padahal saya orang yang sangat malas. Ada tips dari dosen saya yang mana beliau mengatakan bahwa jika kamu sedang belajar, belajarlah secara total dan jika kamu sedang main, mainlah secara total. Sebuah nasihat yang asoy banget bukan? Mulailah saya memikirkan hal tersebut. Bagaimana?

Buku-buku yang dianjurkan dosen sebagai teks book memang sangat tebal. Akibat dari ketebalannya, mahasiswa menjadi sangat malas untuk membacanya. Bahkan membawanya pun enggan karena beratnya. Jika akan membacanya, niscaya sebagian besar dari mahasiswa pasti akan pusing(wah kalo yang ini lebay). Jika teks yang ada di buku berbahasa Inggris, untuk sebagian mahasiswa bisa muntah darah(tambah lebay). Butuh waktu yang lama untuk bisa menguasai materi yang ada di buku itu. Apalagi perlu dicatat bahwa sebenarnya sebagian besar yang diomongkan di dalam buku-buku tebal tersebut adalah sampah! Saya berani mengatakannya karena memang beberapa buku berisi kalimat yang bertele-tele dan basa-basi, sehingga memakan waktu lama dan tidak efektif.

Belajar merupakan hal yang terjadi secara terus-menerus dan kita menyadarinya. Belajar juga merupakan kegiatan yang membosankan dan kita juga menyadarinya. Tetapi, bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan dan semua orang menginginkannya terus-menerus(maunya?). Jadi, jika kita menyadarinya, maka kita perlu menyiapkan strategi yang tepat untuk mengurangi waktu belajar kita dan menambah waktu bermain kita(asyik!).

Begini tipsnya :

dari setiap bab di buku…

1.  Cari minimal 1 intinya, artinya bisa jadi intinya lebih dari 1 (mau tidak mau kita harus membacanya secara keseluruhan, males banget, tapi lakukan saja cuma sebentar aja kok).

2. Jika ada kurvanya atau ilustrasinya(semacam grafik) maka fokuskan ke grafik tersebut dan coba diuraikan. Perhatikan juga nama dari sumbu X dan Y-nya(karena 2 hal itulah yang membunyikan maksud dari grafik).

“Maka, sekali kamu belajar, beres untuk selamanya!”

3. Catat apa-apa yang ada di butir nomor 1 dan 2 di buku tulis. Ingat 1 buku tulis untuk 1 mata kuliah/pelajaran.

“Maka, sekali kamu belajar, beres untuk selamanya!”

4. Lakukan itu secepat mungkin, dan segera bermain!

5. Jangan lakukan butir nomer 1, 2, dan 3 lebih dari 1 bab setiap hari!

Jika kamu masih merupakan mahasiswa yang datang kuliah untuk mendengarkan dosen, maka kunolah kamu! Dosen itu kebanyakan tidak memberikan hal-hal yang penting bagi kita. Jadi lebih baik tidur saja.

Intinya, belajar itu sedikit saja. Tidak perlu banyak-banyak. Cukup yang efektif dan efisien. Karena yang terpenting adalah kualitas dan bukan kuantitasnya.

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.